Cerpen Kue Untuk Kakak Karya Ayu Bintang R. P.
Cari Berita

Advertisement

Cerpen Kue Untuk Kakak Karya Ayu Bintang R. P.

Wednesday, January 25, 2017



Sepotong Kue untuk Kakak
Cerpen Karangan: Ayu Bintang R. P.


Munculnya sang fajar selalu menemani langkahku setiap pagi, termasuk langkah pagi ini. Serasa pagiku ini kujalankan penuh semangat. Semangat karena aku akan mendapatkan banyak pengetahuan dan wawasan baru dan juga semangat untuk mengais rizki dari kue-kue yang akan kujajakan saat istirahat sekolah nanti. Aku memang anak miskin yang harus berjuang melawan kerasnya hidup hanya bersama ibuku. Hidupku terasa lebih sulit saat dua tahun ini, saat dimana ibuku sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja berat lagi. Hatiku juga terasa gundah saat teringat ayah dan kakakku. Dimana mereka sekarang? Ayah telah meninggalkan ibu dan aku saat aku masih berumur satu bulan. Ia juga membawa serta kakakku untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara tetangga.

“Untuk apa hidup di negeri ini? Hanya untuk menuakan diri? Kemana-mana harus berjalan kaki, rumah selalu gelap gulita, kerja susah tapi penghasilan rendah, kalau sakit ingin berobat saja harus pergi ke kota. Aku bosan.” Itulah kata-kata terakhir ayah yang diingat ibuku. Ibuku memang wanita yang sangat cinta akan tanah air ini. Terasa berat baginya untuk meninggalkan negeri ini. Ibu juga mengajarkanku untuk selalu kerja keras dan tidak lupa pada yang di atas.

Karena hari ini libur, aku berniat menjajakan kue-kue ini di pasar dekat terminal kota. Ternyata berjualan disini cukup menguntungkan karena banyak orang yang membeli. Termasuk kakak ini. “Kakak orang mana?”, tanyaku sambil membungkuskan sepotong kue yang dibelinya. “Saya orang Malaysia dek, tapi sebenarnya saya orang sini.” “Lantas tujuan kakak datang ke sini apa?”, tanyaku dengan rasa penasaran. “Saya punya dua tujuan dek kesini, yang pertama saya ini seorang dokter yang sedang menjadi relawan untuk tsunami di Aceh dek, sebentar dek.” Kakak itu memandang bus-bus yang sedang berlalu-lalang. Tiba-tiba kakak itu berlari menuju bus jurusan kota Banda Aceh tanpa mengambil kue yang telah ia bayar. Aku juga tak kuat mengejar kakak itu. “Ya sudahlah, akan kukasih kuenya kalau ketemu lagi.” Aku pun pulang ke rumah karena hari sudah sore.

Sebulan kemudian saat aku berjualan di tempat yang sama, aku melihat kakak itu lagi. Aku segera menghampiri kakak itu. “Kak ini kue, dulu kakak pernah beli tapi kuenya belum diambil.” “Ini kue yang dulu?”, canda kakak itu. “Ya tidaklah kak.” “Adek tau dimana daerah Karangbaru?” “Tau kak, saya juga tinggal disitu. Mari saya antar, saya juga ingin pulang.”


Sesampainya di rumah, saya mengenalkan kakak itu kepada ibu. Sebenarya saya juga belum tau nama kakak itu siapa. “Perkenalkan ibu, adek. Nama saya Zulfi.” Nama yang mengingatkan ibu pada kakakku. “Lantas adek dari mana?”, tanya ibu. “Saya dari Malaysia, saya pindah ke Indonesia untuk menjadi dokter relawan dan mencari keluarga saya. Kata ayah saya keluarga saya ada di karangbaru. Sayangnya saya tidak dapat ke sini dengan ayah karena ia telah tiada.” “Siapa nama ayahmu nak?”, tanya ibu kembali. “Bapak Iskandar.” Jawaban kakak itu membuat ibu menangis terharu. “Kau berada di tempat yang tepat nak, akulah ibumu dan ini adikmu.” Tak kusangka diriku yang hanya seorang penjual gorengan ini punya kakak seorang dokter. Akhirnya, kami kembali berkumpul bersama, walau tanpa kehadiran ayah.