Follow Us

Headline

Kategori

Agama Islam (2) Bahasa Indonesia (25) Debian (2) Fisika (1) Geografi (3) IPA (6) IPS (5) Kumpulan Contoh (15) KWU (2) Makalah (5) Materi TKJ (39) Mikrotik (4) Pemrograman Web (1) Penjas (2) PKN (7) Puisi (12) Seni Budaya (11) Tutorial (13)

Berita Terbaru

Berita Utama

Bola

Berita Pilihan

ShowBiz

Bisnis

Asian Games 2018

CPNS 2018

Liputan9

Liputan9
Liputan9

Advertisement

Masukkan iklan banner 300 X 600px di sini

Advertisement

Masukkan iklan banner 300 X 250px di sini

Total Pageviews

Cerpen Hitam Bukan Putih Karya Pratiwi Nur Zamzani



Hitam Putih
Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani


“Felly!,” panggil Riska saat melihat Felly tengah meladeni orang yang tengah memarahinya.
“Riska?!,” panggil Felly tidak menyangka saat ia melihat Riska sahabatnya muncul di pagi hari yang buta.
Dengan cepat, Felly angkat bicara dan berusaha mengakhiri perselisihannya dengan tetangga kosnya yang tengah berkicau karena Felly tengah menggoreng terasi udang.
“Tuh orang aneh banget sih! Orang hanya goreng terasi malah diocehin!,” gumam Felly dengen menggiring Riska untuk memasuki kos-kosannya.
“Hahahaha. German nggak sama, Fel dengan Indonesia. Di sini, mereka lebih mementingkan kepentingan mereka sendiri.”
“Yeeee! Lu kan, emang udah lama di sini! Beda sama gue yang maasih ba seger di sini.”
“Hahahaha. Iya juga, sih. Oh ya, gimana? Lu semalem udah sahur kan?”
“Udah lah!,” kata Felly dengan memakai sepatunya.
“Di sini, kita bakalan buka jam delapan malam.”
“Haaaaaa??!! Delapan malam???!!,” kejut Felly.
“Nanti, menunya kita masak sendiri aja, ya? Daripada beli, jarang yang jualan makanan halal di sini.”
“Hhhhh!!! Tahu lah! Udah ayo berangkat! Kita ntar telat! Bisa-bisa berkicau juga tuh dosen!,” kata Felly dengan meninggalkan kosnya setelah ia menguncinya.

Mereka menempuh perjalanan untuk sampai ke kampus dengan menaiki kereta. Sesampainya di sana, mereka berpisah. Mengingat, mereka adalah mahasiswa yang berbeda departement. Oleh karena itu, mereka berpisah dan kembali bertemu di taman kampus setelah mereka usai mata pelajaran.

“Kita mau masak apa hari ini?,” tanya Riska.
“Gue pengen banget makan lalapan.”
“Boleh juga.”
Mereka pun memasak makanan yang sesuai dengan keinginan. Hingga akhirnya, Felly memasak dengan tangannya sendiri soto ayam yang Riska tidak tahu untuk siapa. Riska berpikir, soto ayam yang di buat oleh Felly adalah makanan tambahan untuk Felly sendiri saat ia kembali ke kosnya.
“Ris, gue keluar bentar, ya?,” tanya Felly dengan menyiapkan tudung saji untuk soto ayamnya yang sudah ada di atas nampan.
“Ok!,” seru Riska yang masih asik dengan bakaran ayamnya.

Berulangkali Felly mengetuk pintu depan kosnya. Hingga akhirnya pemiliknya ke luar dengan wajah yang setengah marah.
“Ricard, my friend coming in my house. I think we are be able cooking for you eating. This is name soto chicken. And this is, sambal trasi. So, it is Indonesian food.”
“Oh.. yeah! Thank you.”
“You are welcome. Bye!,” kata Felly dengan meninggalkan rumah Ricard dan kembali ke kosnya.

Saat Felly ada di rumahnya, Ia hendak pergi ke dapur. Namun, Riska sudah ada di meja makan dengan makanan hidangan yang diinginkan oleh Felly. Yah.. seperti itulah hubungan mereka berdua. Seperti, kakak adik.
“Lo darimana, Fel?,” tanya Riska dengan menyendok sambal terasi di aatas cobek menggunakan mentimun.
“Dari rumah Ricard.”
“Ricard? Pacar baru lo?,” tanya Riska.
“Hush! Ngawur lu! Itu tuh! Tetangga depan rumah.”
“Yang tadi pagi marah-marah ke lo?,” tanya Riska meyakinkan.
“Iya. Siapa lagi?”
“Lu ngapain ke sana?”
“Nganterin soto.”
“Jadi, lo buat soto buat itu orang?”
“Iya. Emang kenapa?”
“Lu naksir sama dia?,” tanya Riska.
“Nih orang, jawabannya aneh-aneh melulu, ya?”
“Abis, lu aneh banget sih!”
“Ris, kalau dia kasih kita sesuatu yang pahit, kita harus balas dengan yang manis. Lu tahu, kenapa gue masuk islam? Itu semua karena islam penuh dengan perdamaian. Gue emang seorang musafir. Nggak semua tentang islam gue tahu. Tapi, apa salah gue menerapkan salah satu hal yang ada di dalam islam? Nggak kan? Jadi, do what men?”
“Yah.. ok-ok. Bener juga kata lo.”
“Udah yuk, makan! Gue laper sekarang. Lu nggak laper apa? Nggak makan seharian?”
“Hehehe, laper sih, Fel.”
“Ya udah, makan!”

Mereka pun makan bersama menikmati buka pasa pertama di German. Yah.. kewajiban seorang muslim yang harus ditaati oleh seorang muslim. Islam. Agama yang penuh dengan perdamaian. Perdamaian di mata islam, bukanlah sesuatu yang harus ditempuh dengan pedang. Malainkan, manisnya pembalasan saat pahit menyapa.


Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani

Hosting Unlimited Indonesia
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Thanks our comment...

Advertisement

Hosting Unlimited Indonesia